Laporan Hasil Hutan Bukan Kayu-Madu Hutan Kabupaten Berau

laporan-HHBK-Madu-Hutan-Kab.-Berau

Masyarakat di Kabupaten Berau, khususnya masyarakat yang berada di dalam kawasan/sekitar hutan, secara turun temurun memanfaatkan madu hutan yang dihasilkan oleh lebah Apis dorsata untuk kebutuhan komsumsi dan perdagangan. Madu hutan yang di peroleh oleh masyarakat melalui tradisi berburu di hutan, dimana lebah hutan tersebut membuat sarang (koloni) di pohon-pohon yang memiliki karakteristik cukup baik, untuk pertumbuhan dan berkembang biaknya lebah hutan dalam menghasilkan madu hutan.

Masyarakat yang hidup dalam kawasan hutan didominasi oleh masyarakat Suku Dayak, dengan berbagai kelompok etnis dayak (Dayak Punan, Dayak Basap, Dayak Gaai, Dayak Lebo’ dan Dayak Kenya). Aktivitas masyarakat dayak pada umumnya sangat tergantung terhadap daya dukung Sumberdaya Alam (SDA) hutan sekitarnya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masyarakat sangat mengandalkan keahlian berburu, baik dengan cara membuat jerat/perangkap,
menyumpit, membuat racun alam (tuba) dan tehnik

berburu lainnya. Dalam memenuhi kebutuhan pangan, masyarakat masih megandalkan dengan cara berkebun padi, dengan metode ladang berpindah. Sedangkan kebutuhan lauk-pauk sebagai protein tambahan masyarakat mengandalkan hasil berburu di hutan.

Kebutuhan masyarakat, khususnya suku dayak yang tinggal dalam kawasan hutan saat ini, tidak hanya mengandalkan kebutuhan pangan saja, namun saat ini mereka juga membutuhkan pendapatan ekonomi untuk memenuhi biaya kebutuhan hidup lainnya, seperti pendidikan anak-anak, kesehatan, transportasi, tempat tinggal dan lain-lainnya. Namun untuk memenuhi kebutuhan tersebut masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan dari berladang dan berburu semata, saat ini masyarakat khususnya yang berada di Hulu Sungai Kelay sangat tergantung dari aktivitas penambangan emas secara tradisional, walaupun hasil yang didapat juga tidak stabil dan berkelanjutan.

Dari semua hasil berburu masyarakat yang memiliki nilai tambah cukup besar adalah dari sektor pemanenan madu hutan, dimana melalui penuturan warga, hasil madu yang diperoleh cukup besar hingga mampu berkontribusi untuk membeli kendaraan bermotor roda dua, bahkan kendaraan roda empat. Namun hasil ekonomi yang diperoleh dari berburu madu hutan masih bersifat sesaat, hal tersebut dikarenakan model pengelolaan dan pemanfaatan yang dilakukan masih bersifat tradisional, tidak memperhatikan keberlangsungan lebah hutan untuk bisa menghasilkan madu hutan yang terus menerus, ditambah lagi kondisi dan daya dukung hutan yang semakin lama semakin menurun, serta kondisi cuaca dan iklim yang sering mengalami perubahan.

Aktivitas berburu madu hutan oleh masyarakat dayak yang ada di Kabupaten Berau dilakukan secara turun temurun, terlihat dari beberapa kampung yang masih tergantung dari penghasilan berburu madu hutan hampir setiap kepala keluarga dan generasi muda mampu memanen madu hutan dengan cara memanjat pohon bangeris yang tingginya bisa mencapai 60 meter dari atas permukaan tanah. Namun saat ini di beberapa kampung ada juga yang telah meninggalkan tradisi berburu madu hutan, dikarenakan resiko bagi si pemanjat cukup tinggi, yaitu resiko kematian bila jatuh dari pohon yang menjadi sarang lebah hutan.